Keluarga Berencana dalam Pandangan Islam

Fenomena dan Ketentuan

dev-bg-home-2

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” – Q.S. Al-Kahfi: 46

Berdasarkan ayat di atas, anak memiliki kedudukan yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Anak merupakan harta dan perhiasan kehidupan dunia yang tentunya akan semakin mewarnai dan memperindah kehidupan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa kehadiran anak membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna dibandingkan kehidupannya sebelumnya.

Mengingat kehadiran seorang anak yang merupakan anugerah yang sangat besar bagi seorang muslim, terdapat sebuah hadits mengenai keutamaan memiliki banyak anak.

Ma’qil bin Yasar Al-Muzainy-radhiyallahu anhu berkata,

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إني أصبت امرأة ذات حسب وجمال وإنها لا تلد أفأتزوجها ؟ قال ” لا ” ثم أتاه الثانية فنهاه ثم أتاه الثالثة فقال ” تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم الأمم ” .

“Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wasalam, seraya ia berkata, ‘Sesungguhnya aku mendapatkan seorang wanita yang memiliki kemuliaan dan kecantikan dan sesungguhnya ia tak dapat melahirkan. Apakah aku menikahinya?’ Beliau bersabda, ‘Jangan!!’. Kemudian orang itu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasalam kedua kalinya. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasalam pun melarangnya. Kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasalam ketiga kalinya. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Nikahilah wanita yang amat penyayang dan peranak. Karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya kalian di depan para umat.’”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (2050) dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (3277). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3091)]

Setiapi orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik dan menjaga anak-anaknya. Peran orang tua sangat penting terutama dalam membentuk kepribadian anak dan mengarahkan anak menuju hal-hal yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Allah swt berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” –Q.S.At-Tahrim: 6

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Di samping merupakan harta yang indah, seorang anak merupakan tanggung jawab besar bagi orang tua. Terkadang berbagai hal menjadikan pasangan suami istri perlu mempertimbangkan kembali untuk memiliki anak. Misalnya pada kondisi dimana keadaan ekonomi keluarga tidak begitu baik, pasangan suami istri sering merasa khawatir jika nanti mereka memiliki anak atau menambah jumlah anak, anak-anak tersebut tidak dapat dipenuhi kebutuhannya. Contoh lainnya yaitu pada pasangan yang keduanya memilih untuk berkarir, seringkali mereka berpandangan bahwa jika mereka memiliki anak, mereka khawatir tidak dapat mengurusnya dengan baik karena urusan pekerjaan. Karena berbagai latar belakang itulah kemudian banyak pasangan yang memilih untuk menunda atau menghindari memiliki anak atau menambah jumlah anak. Salah satu upaya yang paling sering ditempuh untuk mewujudkannya yaitu melalui jalan KB.

Lalu apakah sebenarnya KB itu? Bagaimana pandangan islam mengenai KB? Bolehkah seorang muslim melakukan KB?

Keluarga Berencana = Family Planning

happy-muslim-family-cartoon

KB atau Keluarga Berencana dikenal juga dengan Family Planning menurut WHO merupakan program yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan jumlah anak yang sesuai dengan keinginannya dan membantu untuk mengatur jarak kelahiran. Dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu kontrasepsi dan treatment of infertility.

Beberapa metode KB kontrasepsi modern dijelaskan dalam tabel berikut

Metode Deskripsi
Kontrasepsi kombinasi oral atau pil Terdiri dari dua hormon (estrogen dan progesteron)
Pil progesteron atau mini pil Terdiri dari hormon progesteron
Implant Batang atau kapsul kecil dan fleksibel yang ditempatkan di lengan atas, terdiri dari hormon progesteron
Injeksi progesteron Penyuntikan progesteron setiap 2 atau 3 bulan sekali
Injeksi bulanan atau kombinasi injeksi Penyuntikan bulanan yang terdiri dari estrogen dan progesteron
Combined contraceptive patch and combined contraceptive vaginal ring (CVR) Secara kontinyu melepaskan estrogen dan progesteron
Intrauterine device (IUD): copper containing Alat plastik kecil fleksibel yang disisipkan ke rahim
Intrauterine device (IUD) levonorgestrel Alat plastik berbentuk T yang disisipkan ke rahim
Male condoms Alat yang digunakan oleh pria yang membentuk penghalang/barrier untuk mencegah pertemuan sperma dan ovum
Female condoms Alat yang digunakan oleh wanita yang membentuk penghalang/barrier untuk mencegah pertemuan sperma dan ovum
Vasektomi Pemotongan vas deferens pria secara permanen
Tubektomi Pemotongan tuba falopi wanita secara permanen
Metode basal body temperature Pengukuran suhu wanita yang dilakukan setiap pagi untuk mengetahui periode suburnya
Twoday method Mengetahui periode subur melalui observasi keberadaan cervical mucus (lendir dari leher rahim)

Kaca Mata Islam

1898147_753859997987350_1777839841_n

Untuk keluarga yang mampu, baik secara ekonomi maupun kesehatan, nampaknya KB bukan sesuatu hal yang dibutuhkan. Selama kondisi istri yang dapat melahirkan dengan sehat dan kebutuhan anaknya kelak cenderung terjamin maka memungkinkan dirinya untuk memiliki anak. Seperti yang telah disebutkan pada hadits sebelumnya, dimana Rasulullah menganjurkan untuk menikahi wanita yang penyayang dan peranak dan Rasulullah akan membanggakan umatnya yang banyak. Namun, perlu diperhatikan pula bahwa memiliki banyak anak disini merupakan banyak anak yang asal saja, melainkan perlu juga anak-anak tersebut dijadikan anak yang memiliki perilaku yang baik. Rasulullah tentu tidak akan bangga jika umatnya banyak tetapi memiliki sifat perusak dan tidak memiliki kualitas yang baik. Maka memiliki anak juga harus dibarengi dengan mendidik anak tersebut dengan baik dan membantu mengarahkannya pada hal-hal positif.

Jika sepasang suami istri berniat melakukan KB hanya karena alasan khawatir akan terkena kemiskinan karena adanya anak, maka sesungguhnya Allah sudah mengatur rezeki anak itu.

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami akan memberi rizqi kepadamu dan kepada mereka”.—Q.S Al-Isra 31

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

“Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” –Q.S An-Nahl 72

وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” –Q.S Al-Ankabut 60

Bagi keluarga yang miskin, melakukan KB untuk memberi jarak kelahiran anak rasanya merupakan hal yang baik. Memberi jarak kelahiran anak diharapkan akan mampu membantu keluarga kurang mampu untuk dapat memastikan anak-anaknya terpenuhi segala kebutuhannya, sehingga orang tua dapat mendidiknya secara maksimal.

Allah swt berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.—Q.S An-Nisa 9

 

Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqash :

إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)

“Sesungguhnya lebih baik bagimu, meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak”. (H.R Muttafaq Alaih)

Namun perlu diingat bahwa memberi jarak kelahiran bukan berati mencegah atau benar-benar menghilangkan peluang untuk memiliki anak.

Jika KB yang dilakukan merupakan sterilisasi permanen atau menghilangkan kemampuan memperoleh keturunan secara permanen, maka hal itu adalah hal yang dilarang kecuali dalam keadaan yang darurat atau membahayakan bagi individu yang bersangkutan. MUI menjelaskan bahwa dengan dilakukannya vaseltomi atau tubektomi maka akan menutup peluang seseorang untuk meregenerasi keturunan.

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة (البقرة : 195)

“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.—Q.S Al-Baqarah 195

Dari uraian yang telah dibahas maka dapat disimpulkan bahwa masalah mengenai KB ini bukan merupakan sesuatu yang mutlak boleh atau tidak boleh dan bukan masalah yang universal. Baik tidaknya KB ini sangat tergantung pada kondisi dan keadaan yang melingkupi.

REFERENSI

Al-Qur’an

Hadzami, Syafi’i. 2010. Taudhihul Adillah. Jakarta : Kompas Gramedia. Tersedia di http://books.google.co.id/ diakses pada 21 Juni 2015

Anshor, Maria U & Abdullah Ghalib. 2010. Parenting with Love: Panduan Islami Mendidik Anak Penuh Cinta dan Kasih SayangI. Bandung : Mizania. Tersedia di http://books.google.co.id/ diakses pada 21 Juni 2015

Hasan, Hamzah. 2009. Melejitkan 3 Potensi Dasar Anak agar Menjadi Saleh & Cerdas. Jakarta : QultumMedia. Tersedia di http://books.google.co.id/ diakses pada 14 Juni 2015

www.who.int diakses pada 20 Juni 2015

www.bbc.com diakses pada 21 Juni 2015

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!